Thursday, March 24, 2011

Perjalanan Panjang Menuju Persalinan


Senin, 14 Maret 2011

Betapa bahagianya aku setelah mengetahui dari ‘Pemeriksaan Dalam’ yang dilakukan dokter bahwa istriku sudah mengalami ‘pembukaan 1’. Ya setelah tiga minggu ku menunggu kelahiran si Dedek di Bandung akhirnya tanda-tanda awal kelahiran itu datang juga. Ku berharap besok si Dedek sudah bisa kami lihat rupanya. Oh sungguh tak sabar…

Dokter menganjurkan agar istri langsung saja diinapkan di ruang persalinan. Tapi karena pertimbangan rumah istri tidak jauh dari Rumah Sakit dan sebenarnya dari awal istri berniat untuk melakukan persalinan di bidan dekat rumahnya. Ku juga menyetujui keinginan itu karena memang selama pemeriksaan yang lumayan lengkap di RS selama beberapa hari ini tidak nampak ada masalah yang mungkin terjadi dalam proses persalinan nanti.

Dari hasil USG kepala si Dedek sudah di bawah dan masuk panggul siap meluncur, Detak jantung si Dedek juga normal. Sedangkan dari tes lab darah istri semua hasilnya normal. Sepertinya memang tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

Selasa, 15 Maret 2011
Pagi ini aku menemani istriku untuk memeriksakan kemajuan perkembangan pembukaan ke bidan dekat rumah istri. Berharap waktu kelahiran si Dedek sudah semakin dekat. Ternyata masih pembukaan 2 ke 3. Tapi ada hal yang membuat kami sedikit bahagia karena menurut Bu bidanya paling lambat siang jam 12 nanti si Dedeknya sudah lahir.
***
Sudah hampir 12 jam sejak siang tadi kami mengepak barang-barang seperlunya untuk keperluan pasca persalinan ke tempat praktik bidan di samping rumahnya. Aku tidur-tiduran di kursi pelastik yang tersedia sedangkan istri lebih banyak mondar- mandir di ruangan itu karena katanya lebih enak diajak berjalan daripada dibuat tidur yang malah menambah rasa sakit saat kontraksi datang. Terakhir di PD sama bu bidannya pembukaannya masih 4-5. Ku masih berharap setidaknya nanti pagi semuanya segera berakhir dengan lahirnya si Dedek.


Rabu, 16 Maret 2011
Di pagi hari akhirnya bu bidan menyerah dan merujuk kami ke sebuah Rumah Sakit. Hal ini dikarenakan pembukaan yang dialami istriku masih sangat lambat,saat itu berkisar 5-6 dan ternyata semalam ketuban di dalam rahim istriku sudah pecah.

Dengan mengendarai taksi kami menuju sebuah Rumah Sakit Khusus Ibu dan Bayi di daerah Astanaanyar. Di sana istri langsung di masukkan IGD untuk di lihat kondisinya kemudian di masukkan ke ruang persalinan. Tekanan darah istriku ternyata menjadi tinggi. Mungkin karena selain faktor kelahan, ada juga faktor ketakutan akan proses persalinan, dan dari kemarin dia belum menyantap makanan dalam ukuran cukup.

***

Owekkk... owekkk...dari bilik sebelah seorang bayi laki-laki lahir. Dek teman-temanmu sudah lebih dahulu keluar ini sudah jam 4 sore. Kapan giliranmu keluar dek?? Ku berguman dalam hati. Dari awal ku memang berniat untuk menemani istri selama persalinan. Jadi ku selalu menunggui istri di sampingnya. Walaupun melelahkan tapi hal itu merupakan suatu pengalaman yang terbayarkan

***

Waktu menunjukkan pukul 9 malam ketika dokter jaga yang memeriksa istri memberitahuku kalau sampai 1 jam lagi tidak ada kemajuan pembukaan yang saat ini sudah merangkak ke angka 9 maka mau tidak mau bayinya harus dikeluarkan secara sesar. Awalnya ku kurang setuju karena tinggal 1 pembukaan lagi istri bisa melahirkan normal. Tapi setelah melihat penderitaan istri yang tak tertahankan pada saat kontraksi juga dari alat pengukur detak jantung yang dipasang diperut istri menandakan gerakan jantung si dedek sedikit melemah akhirnya ku menyetujui keputusan itu.

Menjelang pukul 10 malam akhirnya istri di masukkan ke ruang operasi setelah kemajuan pembukaan yang ditunggu-tunggu tidak kunjung tiba. Ku berdoa dalam hati semoga Ibu dan calon bayiku baik-baik saja.

Tak sampai dari 15 menit dari dalam ruang operasi ku mendengar suara tangisan bayi. Subhanallah moment itu merupakan moment yang mengharukan bagiku. Apalagi setelah beberapa saat kemudian petugas medisnya mempersilakanku untuk melihat kondisi si Dedek. Sehat walafiat dengan anggota tubuh yang lengkap. Ku langsung jatuh hati saat melihat sosoknya, gadis kecil yang cantik. Alhamdulillah... Tapi sayang belum bisa dipuas-puasin memandangnya karena harus dimasukkan di ruang observasi dulu untuk di cek apakah bayinya benar-benar sehat saja, kalau tidak ada apa-apa keesokan harinya dikembalikan ke orang tuanya.

Beberapa saat kemudian istri juga keluar dari ruang operasi dalam keadaan tertidur karena pengaruh bius. Alhamdulillah kedua-duanya tidak apa-apa. Begitu panjang perjalanan untuk mengeluarkanmu dek. Terutama Ibu mu yang selama 3 hari terakhir tak bisa tidur menahan sakit akibat kontraksi. Makanya dek kalau sudah besar nanti kamu jangan berani melawan orang tua ya terutama Ibumu karena perjuangan yang sangat luar biasa untuk menghadirkanmu ke dunia ini. Ingat ya nak ;)