
Baru liat isi digital camera ku lagi, sampai lupa kalau ada foto-foto waktu libur lebaran kemarin di Ciawi, Tasik, Jawa Barat. Suasananya bener-bener masih pedesaan banget. Sawah, Balong (kolam ikan air tawar), peternak bebek dan lain sebagainya yang menandakan mata pencarian pokok para penduduknya.
Waktu itu hari kamis, hari ke empat setelah lebaran. Kami (Aku, Istri, Ayah mertua, dan adik istri) dengan menggunakan 2 motor berangkat ke sana guna bersilaturahim dengan keluarga Almarhumah ibu mertua. Aku tidak sempat menghitung berapa jarak yang kami tempuh dari Bandung menuju Ciawi. Tapi yang pasti waktu perjalannya (dihitung waktu istirahatnya juga) adalah kurang lebih 4 jam. Untung Jalur yang menuju ke Tasik tidak macet, sedangkan jalur sebaliknya menuju Bandung macet total karena telah memasuki arus balik.
Jalan setapak menyambut kami sebelum tiba di tempat tujuan. Hamparan sawah di kanan kiri jalan sempit itu seakan-seakan siap menerima kejatuhan kami bila kami tidak berhati-hati. Ditambah tidak adanya lampu penerangan membuat jalan itu menjadi semakin horor. Sehingga ku memutuskan untuk berjalan secara perlahan-lahan saja. Kan gak lucu kalau aku, istri, beserta motornya terjun bebas ke sawah,,,

Lega akhirnya sampai juga ke tempat tujuan kami, arghhh pinggangku rasanya mau copot. Sebuah rumah panggung kecil sederhana berdindingkan anyaman bambu menjadi tempat peristirahatan kami malam ini. Di rumah itu tinggal sepasang suami istri yang sudah cukup uzur, saudara tertua dari keluarga almarhumah ibu Mertua. Tahu kami datang, para tetangga yang juga umumnya masih saudara berdatangan. Serasa jadi artis... he3x. Tapi sayang mereka menggunakan bahasa sunda untuk berkomunikasi, jadi ku tidak dapat ikut berinteraksi. Ku hanya cuma bisa manggut-manggut sambil senyum-senyum mendengarkan pembicaraan yang hanya sekali-sekali diterjemahkan oleh istri. Bener-bener gak ngerti bahasa sunda euy, harus belajar nich...
Seperti yang ku takutkan, masalah utama daerah pedesaan yakni masalah sanitasi yang kurang diperhatikan ternyata benar juga. Jarang sekali rumah penduduk yang mempunyai toilet di dalam rumah mereka. Kebanyakan mereka menggunakan 'toilet helikopter' untuk urusan buang hajat. Untunglah pada keesokan paginya kami diantar ke rumah keluarga yang punya toilet di dalam rumah mereka. Lega rasanya...
Setelah sarapan kami diajak berkeliling sambil melihat-lihat proses panen ikan di balong milik keluarga. Sudah menjadi tradisi kalau ada keluarga dari jauh yang datang maka satu petak balong akan dipanen guna keperluan makan tamu dan sebagian lagi untuk dijual. Sebenarnya jijik juga sich melihat tempat habitat ikan-ikan itu. Makanan utama mereka ya kotoran dari kita-kita yang dibuang dari 'toilet helikopter'. Tapi bagaimana lagi, ikan-ikan seperti ikan gurami, ikan mas, ikan nila dan ikan-ikan air tawar lainnya enak untuk dijadikan lauk saa makan. hehehe

Karena siang hari setelah sholat jum'at kami harus balik ke Bandung jadi di sisa hari yang ada kami gunakan untuk berkeliling. Kami bersilaturahim di rumah keluarga-keluarga lainnya. Terasa banget keramah tamahan khas masyarakat pedesaan, pulangnya kami dibekali dengan banyak oleh-oleh.
Ada satu hal unik yang aku jumpai saat mengunjungi beberapa rumah keluarga yang boleh dibilang cukup mewah dibanding dengan rumah-rumah sekitarnya. Ternyata kebanyakan dari penduduk desa itu bekerja di daerah perkotaan dengan berdagang alat-alat rumah tangga secara kredit terutama pada ibu-ibu. Di kota mereka biasanya mengontrak rumah yang sangat sederhana sedangkan hasil keuntungan dari usahanya mereka simpan untuk membangun rumah di desa. Ada pula yang hanya dengan hasil menjual fried chicken di kota mereka bisa membangun rumah seperti layaknya rumah para pengusaha sukses di kota. Bisa jadi rumah para penjual kaki lima yang sering kita jumpai di jalan lebih bagus daripada rumah kita sendiri. Namanya juga rejeki ya..., yang pasti mereka tidak malu untuk berusaha.
Selesai sholat jum'at akhirnya kami balik lagi ke Bandung, karena hari minggu ku sudah harus kembali ke Manado. Perjalanan yang cukup melelahkan tapi cukup membawa pengalaman baru. Kapan-kapan ku ingin berkunjung lagi ke sana. Semogaaa...
0 comments:
Post a Comment