Wednesday, December 16, 2009

Jalan-jalan ke Dufan



Akhirnya terpenuhi juga keinginanku buat jalan-jalan ke Dufan. Kamis, tanggal 10 Desember, siang hari. Di temani istri, kami berangkat dari Halte Atrium menggunakan Bussway menuju Ancol. Tiketnya cuma 3.500 per orang. Ternyata antrian penumpang yang menuju Ancol panjang banget. Jadi waktu bus nya tiba di halte langsung dech diserbu, untung saja kami bisa masuk ke dalam bus meskipun harus berdiri. Bus penuh sesak dan jadi pengap di dalamnya. Pengalaman pertama naik bussway yang kurang menyenangkan.

Di Ancol, antrian di loketnya sudah mengular. Agak heran juga sich awalnya hari itu kan hari kamis, bukan pula hari libur koq rame gini. Ternyata eh ternyata, ada special promo pada hari itu. Hanya dengan menunjukkan brosur promosi atau hanya foto copy nya saja kita bisa mendapatkan potongan harga 50%. Untung saja ada orang yang berbaik hati memberikan brosur itu pada kami. Lumayan tiket yang biasanya 90rb di diskon menjadi 45rb.

Wahana pertama yang kami naiki adalah Perang Bintang. Karena dari luar terlihat yang paling sedikit mengantri. Gak taunya di dalam antriannya sudah panjang. Setelah mengantri kurang lebih 30 menit akhirnya kami mendapat giliran. Sesuai dengan namanya kita dinaikkan pada suatu kendaraan berbentuk bulat (mirip-mirip piring terbang) yang muat untuk 6 orang. Kendaraan itu berjalan di atas 'rel' dan setiap beberapa saat berputar. Ada senjata laser dan skor nilai disitu. Tugas kita menembak sasaran lampu kecil hijau yang ada pada 'monster-monster angkasa' sebanyak-banyaknya. Ku sudah bangga dengan skor akhir 3.400 di papan skorku. Tapi setelah melihat kesamping papan skornya menunjukkan angka 14.000. Wuihh...



Wahana selanjutnya yang kami tuju yaitu arung jeram. Dengan sabar kami mengantri ditengah terik matahari yang panas. Butuh waktu satu jam untuk sampai ke ujung antrian. Sama juga kendaraannya berbentuk bulat tapi kali ini menghadap ke dalam. Kendaraan itu diombang-ambingkan dengan ombak buatan. Belum sempat ku berhasil memasang sabuk pengaman kami sudah sampai pada ujung perhentian. Dengan hasil bajuku basah semua. Sungguh tidak sebanding, mengantri 1 jam hanya untuk mendapatkan baju yang basah. Baru ku tau fungsi 'Tempat Mengganti Pakaian' di dekat wahana itu. Tapi sayang kami tidak membawa baju ganti.

Jadilah kami 'mengeringkan pakaian' sambil menikmati semangkuk bakso di samping wahana pontang panting. Melihat wahana itu begitu seru jadilah kami mengantrinya. Antriannya lumayan cepat. Tapi tetap saja memakan waktu lebih dari 20 menit. Wahananya menyerupai piring diputar-putar ke atas dan kebawah dengan menggunakan sebuah tuas. Ada bangku-bangku disetiap sudutnya yang bisa memuat dua orang setiap satu bangku. Tidak seserem menurut perkiraanku. Bahkan ku lebih asyik berpose di atasnya. Hehehe



Sebenarnya wahana yang paling ingin ku naiki yakni wahana halilintar. Tapi sayang saat itu lagi dalam masa perawatan. Karena ku tertarik melihat keseruan di wahana rajawali. Ku mengajak istri untuk kembali mengantri. Lumayan panjang sich, tapi daripada penasaran. Wahananya berupa menara yang dikelilingi dengan kendaraan-kendaraan menyerupai burung, bisa muat untuk 2 orang. Kali ini lumayan seram juga saat di putar-putar di angkasa. Kalau tiba-tiba kendaraan yang kami tempati lepas. Bisa jadi dendeng mungkin :)



Karena hari telah sore dan kebetulan istri tiba-tiba tidak enak badan. Kami memutuskan untuk memasuki Teater Balada Kera. Kirain di dalam teater yang nyaman itu kita-kita bakal disuguhkan dengan kera-kera atau manusia berpakaian kera yang sibuk beratraksi. Ternyata cuma robot-robot boneka kera yang kadang-kadang muncul secara tiba-tiba di berbagai sudut panggung. Sebenarnya ceritanya gak jelas sich soalnya kebanyakan nyanyian. Tapi nyanyiannya itu cukup membuat kita-kita yang menonton terhibur.

Sebelum pulang kami menyempatkan untuk mampir ke wahana Turangga-rangga atau istilah kerennya kuda-kudaan. Memang wahana yang paling tidak menantang, tapi rasanya kurang lengkap kalau belum ke wahana ini.Hehehe... Karena memang kami berangkat kesiangan dan waktu yang ada lebih banyak digunakan untuk mengantri jadi masih banyak banget wahana yang belum sempat kami kunjungi. Lain kali dech kalau ku ada kesempatan ke Jakarta lagi. Yang penting sudah tau jalan ke sana menggunakan apa.

0 comments: