Tuesday, November 17, 2009

Film 2012?? Biasa aja tuch...


Akhirnya semalam kesampaian juga menonton film 2012 tentunya setelah ikutan berjuang mengantri tiket. Penasaran sich, liat thrillernya tampak bagus. Tentunya ku hanya ingin melihat special effect khas film-film holywood dalam menenggelamkan kota-kota di dunia. Kalau soal cerita tentunya sebagai seorang muslim gak akan percaya kalau kiamat terjadi di tahun 2012, haram hukumnya. Cuma Allah yang tau kapan kiamat akan terjadi.

10 Menit... 20 menit... 1 jam... sampai akhir cerita ku berkesimpulan biasa aja tuch filmnya. Special Effect yang ku tunggu-tunggu, memang lumayan bagus sich, tapi masih terlihat kasar. Lagian penenggelaman kota-kotanya hanya dilihatkan di Amerika. Dibelahan bumi lainnya tidak.

Soal cerita?? Apalagi... Kurang begitu menggigit. Ada cerita tentang seorang ayah yang telah bercerai. Istrinya sudah menikah lagi dengan pria lain. Dia berusaha manarik simpati anak-anaknya kembali. Sudah sering banget type-type cerita seperti ini, mirip cerita film di war of the world.

Asal mula kejadian bencana juga tidak dijalaskan secara detil. Kabarnya banyak ditentang oleh para Ilmuwan, tidak ilmiah menurut mereka. Inti cerita juga bukan tentang 'kiamat', tapi cuma tentang 'Bencana'. Karena kalau kiamat tentunya tidak ada makhluk hidup yang tersisa di bumi. Malah cerita filmnya menyadur cerita 'Bahtera Nabi Nuh' versi modern. Para petinggi dunia dan orang-orang yang mampu membayar diselamatkan oleh kapal-kapal raksasa. Kapal-kapal itu dibangun di atas pegunungan Himalaya.

Yang lebih buatku ill fill, belasan adegan yang menggambarkan keberuntungan para pemeran utama yang bisa lolos dari kematian. Mobil yang melaju kencang sementara jalan-jalan di belakangnya rontok. Pesawat yang kehabisan bahan bakar, rencanya akan mendarat darurat di Laut eh ternyata secara sangat kebetulan kerak bumi telah bergeser dari yang awalnya laut di peta menjadi dataran tinggi di tibet tempat yang mereka tuju. Secara kebetulan juga mereka bertemu orang-orang tibet yang mau menyelamatkan diri menuju kapal raksasa itu. Jadi dech mereka selamat.

Kesan yang biasanya ku rasakan setelah menonton sebuah film tidak ku rasakan. Ceritanya terlalu mengada-ada dan tampak memaksakan. Ku malah lebih suka film The Day After Tomorrow.

Ada satu hal yang membuatku bingung setelah menonton filmnya. Bukan tentang filmnya, tapi tentang tiketnya. Perasaan aku dapat tiketnya untuk hari rabu. Kemarin kan hari selasa?? Koq petugas di depan pintu gak meriksa?? Kebetulan juga koq bangku yang ku tempatin kosong??? Baru nyadar... ckckckck

Sunday, November 15, 2009

Etnosentrisme


Alhamdulillah akhirnya 2 pekan yang melelahkan berakhir juga. Berawal dari cuti untuk bertemu istri di Bandung, dilanjutkan ikut sosialisasi di Makassar. Pulang ke Manado dah di sambut lagi dengan antrian rutin kerjaan di awal bulan. Kemudian dilanjutkan dengan mengikuti Rakor di Kotamobagu. Terakhir ujian UT yang baru aja berakhir. Waduhhh... padat juga ya ternyata kegiatanku.

Eits jangan di tanya gimana ujiannya tadi. Alhamdulillah sukses benget (tebak-tebakannya ;). Yach bagaimana gak belajarnya aja pake SKS (Sistem Kebut Semenit). Jadi jangan berharap banyak lah dengan hasilnya. Mudah-mudahan hasil tebak-tebakanku yang tadi kukerjakan banyak yang tepat. He3x

Oh ya, salah satu mata kuliah yang ku ambil di semester ini adalah Komunikasi Antar Budaya. Waktu tadi membaca sekilas di Modulnya, ku menemukan istilah 'Etnosentrisme'. Yakni kecendrungan memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk segala penilaian. Gampangnya kita cenderung menilai orang lain dari kacamata kultur kita sendiri.

Jadi ingat kalau lagi ada acara kondangan di Manado atau acara-acara makan prasmanan lainnya yang mengharuskan makan dikursi (tanpa meja). Kebanyakan teman-teman asli manado memang tidak 'malu-malu' dalam mengambil makanan yang tersedia, dan itu dianggap sebagian teman-teman dari Jawa kurang sopan. Sebaliknya setelah selesai makan teman-teman dari Jawa meletakkan piring bekas makanan di bawah kursi tempat duduk. Hal itu dianggap kurang sopan buat teman-teman dari Manado.

Kalau aku akhirnya mengambil sisi baik dari keduanya, mengambil makanan dengan tidak berlebihan (kalau lagi inget, he3x) dan juga setelah makan meletakkan piring sisa makan di tempat yang lebih tinggi (biasanya di meja) dengan harapan supaya piringnya tidak tersenggol waktu menggeser kursi atau sedang berjalan.

Asyik juga sich udah punya kesempatan untuk bisa memperhatikan sebagaian besar keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia. Kalau aku sendiri sepertinya tidak punya sebuah budaya yang dominan. Ibu dari Jawa, Bapak asli Kalimantan, Istri keturunan Sunda, saat ini ku menetap di pulau Sulawesi. Gado-gado budaya yang mempengaruhiku. Yach pokoknya selama sebuah kebudayaan itu baik dan tentunya tidak bertentangan dengan agama, sah-sah saja menurutku untuk disadur.

Awalnya sich mungkin kita akan mengalami yang namanya culture shock bila menghadapi sebuah budaya yang kita anggap baru. Merasa tidak siap dengan perubahan yang terjadi. Bahkan pada hal-hal yang terbilang kecil sekalipun. Tapi selanjutnya secara perlahan-lahan kita akan terbiasa. Contohnya nich aku sendiri, sebelumnya yang ada dipikiranku kalau yang namanya teh haruslah manis. Tapi buat orang-orang sunda, yang namanya teh ya hanya teh, tanpa gula. Kecuali kita meminta untuk ditambah pemanis.

Ku baru sadar, ternyata yang selama ini membuatku tergila-gila pada minuman teh bukan pada tehnya, tapi pada rasa manis dari gulanya. Kalau tanpa gula rasanya jadi 'aneh' menurut lidahku. Tapi memang ada benarnya, khasiat utama dari minuman teh ya pada sari daun tehnya. Bukan pada gulanya. Harus dibiasain nich minum teh tanpa gula untuk kesehatanku juga :)


Yach menurutku, kita jangan terjebak dalam sebuah seterotipe. Menilai budaya lain dengan kacamata budaya kita sendiri. Lihatlah dari sudut pandang yang berbeda-beda. Siapa tau yang selama ini kita pikirkan mengenai prilaku sebuah budaya adalah salah. Bahkan sebaliknya, siapa tau kita dapat mengambil sisi baiknya.Berusahalah untuk melihat perbedaan karena tidak dapat dipungkiri kita hidup di negara yang kaya akan keanekaragaman budaya, Indonesia...

Saturday, November 14, 2009

Jalan-Jalan ke 'Kota'


(SING)

Pada hari sabtu ku turut Pak Boss ke Kota (mobagu)
Naik Bentor Roda 3 ku duduk di muka
Ku duduk depan pak bentor yang sedang bekerja
Mengendarai bentor supaya bener jalannya

Hey... broom... broom
broom... broom.... suara knalpotnya

Jedug... jedug... jedug... jedug...
suara speakernya.

Thursday, November 12, 2009

Jakarta In Chaos??

Semalam di mobil dalam perjalanan dari Manado ke Kotamobagu yang memakan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan darat. Ada sebuah peristiwa yang sempat membuat kami seisi mobil takut gak karuan. Penyebabnya adalah sebuah sms yang diterima oleh salah satu atasanku dari istrinya. Isinya begini :

"Jakarta saat ini dilanda kekacauan, para penduduknya diungsikan ke tempat-tempat yang lebih aman. Polisi dan TNI dikerahkan untuk mengamankan situasi. Dan ambulan-ambulan disiagakan di jalan-jalan."

Pikiranku saat itu sudah macam-macam. Benarkah sudah separah itu Jakarta?? Apakah polisi sudah benar-benar marah karena selalu dipojokkan sehingga kemudian memberontak menguasai Ibu kota. Kebetulan saat itu kami sedang berada di jalan yang sepi dan tidak bisa menonton televisi, jadi tidak tau perkembangan terkini negeri ini.

Mungkin saja saat itu juga Manado sedang kacau. Sesaat setelah kami tinggalkan. Bagaimana kabar Istriku di Bandung?? bagaimana orang tuaku di Balikpapan?? Sempat kacau dech pikirannya.

Ternyata sms itu belum selesai, lanjutan SMS nya :

" Karena pada hari ini direncanakan Gusdur akan belajar mengemudi di jalanan Ibu kota"

SIALLLLL... %#@&*$#

Wednesday, November 11, 2009

Galaksi Kinanthi


Ku baru saja menamatkan membaca sebuah buku, judulnya 'Galaksi Kinanthi'. Sebuah novel karya Tosaro GK yang katanya sich terinspirasi dari cerita nyata. Ku mendapat info tentang buku ini dari teman kostku (red-Kang Udin). Katanya (dengan menggebu-gebu) novel ini ceritanya bagus, boleh disandingkan dengan novel Ayat-Ayat Cinta & Laskar Pelangi. Jadilah aku penasaran dan akhirnya membeli buku itu.

Endorsement dari cover novel ini dipenuhi dengan orang-orang ternama, seperti : Dewi Lestari, Helvi Tiana Rosa, Imam Tantowi, Gola Gong, dll. Jadi tambah penasaran ingin cepat-cepat membacanya.

Pada halaman pertama di bab pertama belum apa-apa ku sudah disambut dengan sebuah paragraf yang manis. Berikut kutipannya :

"Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta.
Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman disekitarnya. Jika dia dekat kau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika kau merasa ia memperhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebutpun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum dan menangis tanpa disebut gila.
Berhati-hatilah...


Prasangkaku ternyata benar, inti cerita novel ini memang tentang cinta dari kelas sosial yang berbeda. Tapi bukan sembarang kisah cinta picisan. Tersebutlah seorang gadis cilik bernama kinanthi hidup sangat miskin di di daerah gunung kidul, anak dari seorang ayah penjudi. Tak ada seorang temanpun yang mau bermain dengan dia kecuali seorang teman sebayanya bernama Ajuj. Anak seorang Rohis (semacam tetua agama di kampung). Tentu saja kedekatan mereka di tentang orang tua masing-masing.

Hingga pada puncaknya, karena ketidakmampuan orang tua kinanthi untuk membiayainya sekolah. Dia 'ditukar' dengan hanya dengan '50kg' beras kepada keluarga yang mereka anggap lebih mampu. Dia dibawa oleh keluarga itu ke Bandung. Meskipun dia di sana disekolahkan, tapi sebenarnya dia tak lebih dari seorang pembantu. Sepulang sekolah dia harus mengurus rumah keluarga itu tanpa digaji sepersenpun. Hingga karena sebuah peristiwa akhirnya dia benar-benar dilarang keluar rumah. Baru satu tahun kemudian dia bisa keluar, itupun karena 'dijual' untuk menjadi TKW di negeri Arab.

Tak gampang menjadi pembantu di negeri orang. Apalagi mereka-mereka telah menganggap seorang pembantu adalah sama dengan seorang budak. Yang bisa diperlakukan sekehendak sang majikan. Untung saja kinanthi seorang pribadi yang tangguh, telah terbiasa dengan kesusahan dan mampu untuk membela diri. Dia harus keluar-masuk rumah berganti majikan. Hingga akhirnya dia bertemu dengan calon majikan yang akan bermukim di Amerika. Diapun setuju untuk ikut pindah ke Amerika.

Ternyata majikannya itu adalah saudara dari mantan majikannya waktu bekerja di arab. Dia pernah 'melawan' perlakuan kasar mantan majikannya itu hingga menyebabkan sang majikan cedera. Jadilah saudaranya itu membalas dendam. Dia diperlakukan layaknya binatang. Dia tidak dapat membela diri lagi, benar-benar 'dihancurkan'. Hingga pada suatu waktu dia punya kesempatan untuk melarikan diri. Dia bertemu dengan seorang yang berbaik hati membantunya. Singkat cerita dia mendapat kewarganegaraan Amerika dan kemudian disekolahkan kembali. Dia menjadi seorang profesor dan penulis terkenal.

Cerita selanjutnya diisi dengan pencarian Kinanthi terhadap masa lalunya, keluarganya dan ajuj. Kali ini tetap terjadi pertentangan kelas, tapi berlaku sebaliknya. Kinanthi sang profesor dengan pola pikir cenderung sekuler, sedangkan Ajuj hanyalah seorang anak desa lulusan pesantren.

Kesimpulanku, novel ini layak untuk dibaca. Banyak hal yang dapat kita pelajari terutama tentang nasib para TKI kita di luar negeri. Sungguh membuat hati miris. Dan satu hal lagi, jangan pernah menyerah dengan keadaan, teruslah berjuang :)

Monday, November 9, 2009

Fenomena Drama 'Cicak dan Buaya'


Pasti dah liat berita di TV hari ini kan?? Atau mungkin baca di koran & berita dari situs-situs di internet??. Isinya memang masih sama dengan berita minggu lalu. Didominasi oleh drama pertikaian yang terkenal dengan julukan 'Cicak & Buaya'. Mau pagi, siang, sore, malam, sampai pagi lagi beritanya masih itu-itu juga. Jadi jangan kuatir, gak bakal ketinggalan berita dech,,,He3x

Ator-aktor utamanya para petinggi di Negeri Indonesia Tercinta ini. Diantaranya dari pihak KPK diwakili oleh Bibit-Chandra, dari pihak kepolisian Susno Duadji, dari Kejaksaan Abdul Hakim Ritonga, ditambah para geng dari surabaya (Anggoro, Anggodo, Ari Muliadi, dan si tokoh misterius Yulianto), diwasiti oleh Tim 8, serta tokoh-tokoh baru lainnya yang kemungkinan akan bermunculan. Sampai hapal gini nama-namanya :).

Kali ini ku gak ingin membahas tentang masalah hukumnya karena memang ku masih sangat awam untuk mengerti mengenai dunia hukum, apalagi dunia hukum di Indonesia. Ku hanya ingin mengajak berlogika dalam melihat fenomena-fenomena unik yang terjadi.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bibit-chandra diperiksa oleh pak polisi karena diduga menyalah gunakan kekuasaannya dengan mencekal Anggoro. Si Anggoro di cekal supaya tidak melarikan diri keluar negeri karena diduga sebagai pemberi suap pada Yusuf Emir Faisal dan beberapa anggota DPR lainnya dalam kasus Tanjung si api-api. Yusuf Emir Faisal sendiri sudah didakwa bersalah oleh Pengadilan Tipikor di Jakarta.
Logikanya nich, kalau yang menerima suap aja udah jadi tersangka trus gimana yang pemberi suap?? Harusnya dihukum juga dunk. Kalau gak dihukum berarti malah akan banyak timbul pertanyaan. Nah ini ada pihak yang mau bertindak tegas malah di anggap menyalahgunakan kekuasaan.

Fenomena unik lainnya yakni begitu besar peran media saat ini, opini publik yang dibentuknya sungguh luar biasa. Polisi dan Kejaksaan tampak benar-benar 'dihabisi' oleh media, seakan-akan tidak punya kharisma lagi. Dengan cepat seseorang dianggap sebagai pahlawan dan dengan cepat pula seseorang dihabisi karakternya hanya dengan sebuah berita.

Sebenarnya senang-senang aja sich beritanya di liput secara terus menerus oleh media. Tapi menurutku sich seharusnya juga diimbangi dengan berita-berita lainnya yang sifatnya mencerahkan, membangkitkan kecintaan pada negeri sendiri. Misalnya tentang keberhasilan anak Indonesia dalam berprestasi mengharumkan nama bangsa (atau mungkin memang berita seperti ini sangat langka ya??). Kalau terus-menerus disajikan berita-berita tentang ulah para penguasanya yang tak patut untuk ditiru, lama-kelamaan akan menambah rasa pesimistis kita tehadap negeri sendri.

Yach kita liat aja kelanjutan kasusnya berkembang ke mana. Bingung juga sich, semuanya bersumpah mengaku tidak bersalah. Apa mereka sudah tidak menganggap sakral lagi ya arti sebuah sumpah. Yang buat lebih miris lagi kalau memang semua itu benar, sudah separah itukah penegakan hukum di negeri ini?? Malu aku sebagai warga negaranya.

Mudah-mudahan aja sich media tetap trus mengawal kasus itu sampai tuntas. Tidak seperti kasus Ibu Prita yang sampai sekarang sudah gak ada kabarnya lagi. Gimana ya kabar Ibu Prita sekarang??

Wednesday, November 4, 2009

Kabar dari Bandung


Terasa singkat banget liburan kemarin, ku cuma punya waktu kurang dari 4 hari untuk bertemu istri. Tapi lumayan lah untuk sekedar melepas rindu daripada tidak sama sekali. 4 hari di Bandung lebih banyak dihabiskan di rumah aja. Males banget buat jalan-jalan keluar. Terlebih lagi sehari menjelang pulang ku diserang diare yang ku prediksi disebabkan oleh kwetiau yang ku makan dimalam sebelumnya. Kebanyakan merica sepertinya. Untung aja tidak berlanjut waktu mau berangkat ke Makassar.

Alhamdulillah semua keluaga di Bandung baik-baik aja. Ada kabar baik juga, Istri dihadiahi adik baru lagi. Namanya Raki Syadad Khoir, yang artinya Raki:patuh , Syadad: Pemberani, Khoir : Baik... Yach initnya dia diharapkan menjadi anak yang tak lupa untuk selalu patuh kepada sang Maha Pencipta Allah SWT dan kepada orang tua, pemberani terutama dalam menegakkan keadilan, serta menjadi anak yang baik. Berguna bagi agama, keluarga, lingkungan, bangsa dan negara. Amiiin... Mudah-mudahan ntar Raki bakal cepat-cepat dapat teman main dari teteh. He3x.