Wednesday, November 11, 2009

Galaksi Kinanthi


Ku baru saja menamatkan membaca sebuah buku, judulnya 'Galaksi Kinanthi'. Sebuah novel karya Tosaro GK yang katanya sich terinspirasi dari cerita nyata. Ku mendapat info tentang buku ini dari teman kostku (red-Kang Udin). Katanya (dengan menggebu-gebu) novel ini ceritanya bagus, boleh disandingkan dengan novel Ayat-Ayat Cinta & Laskar Pelangi. Jadilah aku penasaran dan akhirnya membeli buku itu.

Endorsement dari cover novel ini dipenuhi dengan orang-orang ternama, seperti : Dewi Lestari, Helvi Tiana Rosa, Imam Tantowi, Gola Gong, dll. Jadi tambah penasaran ingin cepat-cepat membacanya.

Pada halaman pertama di bab pertama belum apa-apa ku sudah disambut dengan sebuah paragraf yang manis. Berikut kutipannya :

"Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta.
Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman disekitarnya. Jika dia dekat kau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika kau merasa ia memperhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebutpun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum dan menangis tanpa disebut gila.
Berhati-hatilah...


Prasangkaku ternyata benar, inti cerita novel ini memang tentang cinta dari kelas sosial yang berbeda. Tapi bukan sembarang kisah cinta picisan. Tersebutlah seorang gadis cilik bernama kinanthi hidup sangat miskin di di daerah gunung kidul, anak dari seorang ayah penjudi. Tak ada seorang temanpun yang mau bermain dengan dia kecuali seorang teman sebayanya bernama Ajuj. Anak seorang Rohis (semacam tetua agama di kampung). Tentu saja kedekatan mereka di tentang orang tua masing-masing.

Hingga pada puncaknya, karena ketidakmampuan orang tua kinanthi untuk membiayainya sekolah. Dia 'ditukar' dengan hanya dengan '50kg' beras kepada keluarga yang mereka anggap lebih mampu. Dia dibawa oleh keluarga itu ke Bandung. Meskipun dia di sana disekolahkan, tapi sebenarnya dia tak lebih dari seorang pembantu. Sepulang sekolah dia harus mengurus rumah keluarga itu tanpa digaji sepersenpun. Hingga karena sebuah peristiwa akhirnya dia benar-benar dilarang keluar rumah. Baru satu tahun kemudian dia bisa keluar, itupun karena 'dijual' untuk menjadi TKW di negeri Arab.

Tak gampang menjadi pembantu di negeri orang. Apalagi mereka-mereka telah menganggap seorang pembantu adalah sama dengan seorang budak. Yang bisa diperlakukan sekehendak sang majikan. Untung saja kinanthi seorang pribadi yang tangguh, telah terbiasa dengan kesusahan dan mampu untuk membela diri. Dia harus keluar-masuk rumah berganti majikan. Hingga akhirnya dia bertemu dengan calon majikan yang akan bermukim di Amerika. Diapun setuju untuk ikut pindah ke Amerika.

Ternyata majikannya itu adalah saudara dari mantan majikannya waktu bekerja di arab. Dia pernah 'melawan' perlakuan kasar mantan majikannya itu hingga menyebabkan sang majikan cedera. Jadilah saudaranya itu membalas dendam. Dia diperlakukan layaknya binatang. Dia tidak dapat membela diri lagi, benar-benar 'dihancurkan'. Hingga pada suatu waktu dia punya kesempatan untuk melarikan diri. Dia bertemu dengan seorang yang berbaik hati membantunya. Singkat cerita dia mendapat kewarganegaraan Amerika dan kemudian disekolahkan kembali. Dia menjadi seorang profesor dan penulis terkenal.

Cerita selanjutnya diisi dengan pencarian Kinanthi terhadap masa lalunya, keluarganya dan ajuj. Kali ini tetap terjadi pertentangan kelas, tapi berlaku sebaliknya. Kinanthi sang profesor dengan pola pikir cenderung sekuler, sedangkan Ajuj hanyalah seorang anak desa lulusan pesantren.

Kesimpulanku, novel ini layak untuk dibaca. Banyak hal yang dapat kita pelajari terutama tentang nasib para TKI kita di luar negeri. Sungguh membuat hati miris. Dan satu hal lagi, jangan pernah menyerah dengan keadaan, teruslah berjuang :)

0 comments: