
Alhamdulillah akhirnya 2 pekan yang melelahkan berakhir juga. Berawal dari cuti untuk bertemu istri di Bandung, dilanjutkan ikut sosialisasi di Makassar. Pulang ke Manado dah di sambut lagi dengan antrian rutin kerjaan di awal bulan. Kemudian dilanjutkan dengan mengikuti Rakor di Kotamobagu. Terakhir ujian UT yang baru aja berakhir. Waduhhh... padat juga ya ternyata kegiatanku.
Eits jangan di tanya gimana ujiannya tadi. Alhamdulillah sukses benget (tebak-tebakannya ;). Yach bagaimana gak belajarnya aja pake SKS (Sistem Kebut Semenit). Jadi jangan berharap banyak lah dengan hasilnya. Mudah-mudahan hasil tebak-tebakanku yang tadi kukerjakan banyak yang tepat. He3x
Oh ya, salah satu mata kuliah yang ku ambil di semester ini adalah Komunikasi Antar Budaya. Waktu tadi membaca sekilas di Modulnya, ku menemukan istilah 'Etnosentrisme'. Yakni kecendrungan memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk segala penilaian. Gampangnya kita cenderung menilai orang lain dari kacamata kultur kita sendiri.
Jadi ingat kalau lagi ada acara kondangan di Manado atau acara-acara makan prasmanan lainnya yang mengharuskan makan dikursi (tanpa meja). Kebanyakan teman-teman asli manado memang tidak 'malu-malu' dalam mengambil makanan yang tersedia, dan itu dianggap sebagian teman-teman dari Jawa kurang sopan. Sebaliknya setelah selesai makan teman-teman dari Jawa meletakkan piring bekas makanan di bawah kursi tempat duduk. Hal itu dianggap kurang sopan buat teman-teman dari Manado.
Kalau aku akhirnya mengambil sisi baik dari keduanya, mengambil makanan dengan tidak berlebihan (kalau lagi inget, he3x) dan juga setelah makan meletakkan piring sisa makan di tempat yang lebih tinggi (biasanya di meja) dengan harapan supaya piringnya tidak tersenggol waktu menggeser kursi atau sedang berjalan.
Asyik juga sich udah punya kesempatan untuk bisa memperhatikan sebagaian besar keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia. Kalau aku sendiri sepertinya tidak punya sebuah budaya yang dominan. Ibu dari Jawa, Bapak asli Kalimantan, Istri keturunan Sunda, saat ini ku menetap di pulau Sulawesi. Gado-gado budaya yang mempengaruhiku. Yach pokoknya selama sebuah kebudayaan itu baik dan tentunya tidak bertentangan dengan agama, sah-sah saja menurutku untuk disadur.
Awalnya sich mungkin kita akan mengalami yang namanya culture shock bila menghadapi sebuah budaya yang kita anggap baru. Merasa tidak siap dengan perubahan yang terjadi. Bahkan pada hal-hal yang terbilang kecil sekalipun. Tapi selanjutnya secara perlahan-lahan kita akan terbiasa. Contohnya nich aku sendiri, sebelumnya yang ada dipikiranku kalau yang namanya teh haruslah manis. Tapi buat orang-orang sunda, yang namanya teh ya hanya teh, tanpa gula. Kecuali kita meminta untuk ditambah pemanis.
Ku baru sadar, ternyata yang selama ini membuatku tergila-gila pada minuman teh bukan pada tehnya, tapi pada rasa manis dari gulanya. Kalau tanpa gula rasanya jadi 'aneh' menurut lidahku. Tapi memang ada benarnya, khasiat utama dari minuman teh ya pada sari daun tehnya. Bukan pada gulanya. Harus dibiasain nich minum teh tanpa gula untuk kesehatanku juga :)
Yach menurutku, kita jangan terjebak dalam sebuah seterotipe. Menilai budaya lain dengan kacamata budaya kita sendiri. Lihatlah dari sudut pandang yang berbeda-beda. Siapa tau yang selama ini kita pikirkan mengenai prilaku sebuah budaya adalah salah. Bahkan sebaliknya, siapa tau kita dapat mengambil sisi baiknya.Berusahalah untuk melihat perbedaan karena tidak dapat dipungkiri kita hidup di negara yang kaya akan keanekaragaman budaya, Indonesia...
0 comments:
Post a Comment