Saturday, March 3, 2012

Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil (One Child)

Judul : Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil (Judul Asli: One Child)
Karya : Torey Hayden
Tebal : 384 hlmn
Penerbit Indonesia : Qanita (PT. Mizan Pustaka)


Bagaimanakah perasaan Anda bila harus mengajar di sebuah kelas dengan 8 anak berkebutuhan khusus yang masih sangat belia?. Pasti membutuhkan energi yang lebih. Apalagi akan ditambah seorang gadis kecil yang memiliki catatan kriminal mencengankan.

Sheila nama anak itu, seharusnya dia akan dikirim ke rumah sakit negara karena tindakannya mengikat seorang bocah berusia 3 tahun di sebuah pohon kemudian membakarnya. Tetapi karena belum ada unit khusus di rumah sakit itu maka untuk sementara dia ditempatkan di kelas tempat Torey Hayden mengajar.

Awalnya Sheila tak tersentuh. Berkali-kali membuat kegaduhan di sekolah dan tidak mau mengikuti kegiatan belajar yang diadakan Torey. Tapi kemudian dengan kesabaran dan ketulusan Torey anak itu mampu 'dijinakkannya'. Belakangan dia baru menyadari bahwa anak itu adalah seorang anak yang istimewa. Jenius untuk anak seusianya.



Sheila melorot dari pangkuan saya dan berbalik, berlutut supaya dapat memandang langsung ke mata saya. "Kamu akan taunggung jawab sama aku. Kamu jinakkan aku, jadi sekarang kamu tanggung jawab sama aku?"

Membaca buku dengan label 'True Story' tentu merupakan sebuah keasyikan Tersendiri. Kita tau bahwa kejadian itu nyata, bukan merupakan hasil imajinasi penulis. Hal itu pula yang membuatku begitu tertarik membaca buku ini. Buku yang sebenarnya merupakan catatan Torey Hayden mengenai Sheila anak didiknya. Hingga dia menyadari bahwa buku itu layak untuk diterbitkan agar bisa dibaca oleh banyak orang.

Salah satu bagian yang mengharukan dari buku ini adalah saat Torey dengan sigapnya mengantar Sheila ke rumah sakit. Anak yang telah dianggapnya istimewa lebih dari sekedar hubungan antara guru dan murid. Kala itu Sheila datang ke kelas dengan pendarahan akibat percobaan tindakan asusila yang dilakukan pamannya Jerry. Cukup mengharukan bagaimana Sheila yang sudah menderita ditinggal ibunya sejak kecil dan harus tinggal bersama ayahnya yang suka mabuk-mabukan disebuah gubuk yang menyedihkan, ditambah lagi dengan kejadian itu.

Buku ini sangat tepat untuk dibaca siapa saja terutama untuk mereka yang harus berhubungan langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Belajar memahami mereka, dengan penuh kesabaran dan ketulusan mungkin kita bisa menyentuh hati mereka dan kemudian mengarahkan mereka menjadi pribadi yang lebih baik.

My Rate :

Wednesday, February 29, 2012

Mimpi Sejuta Dolar

Judul : Mimpi Sejuta Dolar
Karya : Albertihiene Indah (Merry Riana)
Tebal : 362 hlm
Penerbit Indonesia : PT. Gramedia Pustaka Utama

Dalam benak kita, kuliah diluar negeri merupakan suatu kemewahan. Hanya bisa dilakukan oleh mereka yang orang tuanya berduit lebih atau mereka yang beruntung mendapatkan beasiswa di luar negeri. Berbeda dengan Merry Riana, tokoh yang diceritakan dalam buku ini.

Dia melanjutkan kuliah keluar negeri tepatnya di Nanyang Technological University (NTU) Singapura dikarenakan situasi keamanan yang tidak menentu saat itu di Indonesia (Tahun 1998). Kerusuhan sosial terjadi dimana-mana dan kaum minoritas seperti Ria (keturunan Tionghoa) kerap menjadi sasaran tindakan kekerasan.

Menjadi perempuan dengan penghasilan 1 juta dolar saat usiaku 26 tahun, tidak pernah bercokol dalam daftar cita-citaku sejak kecil. Tapi beberapa tahun penuh perjuangan di Singapura telah mengubah hidupku begitu pesat. Tak ada yang tak mungkin jika kita mau bekerja keras.

Dengan modal pinjaman dari Bank di Singapura sebesar 40.000 dolar dia mendaftar di NTU. Pinjaman itu harus dia lunasi kelak setelah lulus kuliah dengan bekerja di Singapura. Setelah di hitung-hitung, jumlah pinjaman itu setelah dipotong dengan kebutuhan kuliah dan lain-lain hanya tersisa 10 dolar setiap minggu untuk makan.

Bisa dibayangkan bagaimana cara dia harus berhemat kalau harga sepiring nasi goreng biasa 2 dolar. Mie Instant dan roti tawar menjadi menu makannya setiap hari. Meskipun begitu, dia tidak mau mengeluh ke orang tuanya di Indonesia karena dia tau mereka juga sedang mengalami masalah keuangan di masa-masa krisis Moneter.

Banyak sekali cerita-cerita yang bisa memotivasi kita di buku ini. Perjuangannya untuk menambah 'uang saku' dengan bekerja part time sebagai pembagi brosur. Pertemuannya dengan Alva (kelak menjadi suaminya) menjadikan mereka patner yang solid dalam berbagai hal. Kegigihannya untuk memulai usaha meskipun telah beberapa kali mengalami kegagalan. Dan yang paling membuatku merinding adalah perjuangannya untuk bertemu sang motivator idola Anthony Robbins secara langsung padahal beliau terkenal tidak pernah berbagi gambar disetiap seminarnya.

Dia bersikeras untuk bertemu secara langsung dengan Anthony Robbins untuk membuktikan sendiri perkataan idolanya itu pada seminar yang diikutinya, walaupun harus bersitegang dengan bodyguard yang menjaga beliau. "Jangan takut pada cita-cita besar kita. Kejarlah, bergeraklah, dan kita tahu bahwa itu tidak mustahil". Ya, keinginannya saat itu adalah untuk bertemu beliau secara langsung dan diapun mewujudkannya.

Keberaniannya melawan arus lah yang membawanya meraih kesuksesan. Disaat mayoritas temannya berniat untuk menjadi pegawai dengan melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan yang ada di sana. Dia dan Alva nekat terjun sebagai sales asuransi meskipun mendapatkan cemoohan dari teman-temanya. Dengan tekat dan keberanian yang kuat serta disiplin yang sangat tinggi pada usia yang terbilang masih muda dia meraih penghasilan satu juta dolar pertamanya di usia 26 tahun. Dan hal itu yang membawanya diundang diberbagai macam seminar dan dianugrahi banyak penghargaan.

Sebelum baca buku ini sih ku belum pernah mengenal siapa itu Merry Riana. Tapi setelah membacanya ku jadi punya keinginan untuk bisa ikut di seminar yang dia adakan. Ingin mendengarkan sendiri perjuangannya yang dahsyat dalam meraih kesuksesan di usia muda. Mengembalikan motivasi diri sendiri untuk meraih sukses.

My Rate :

Saturday, February 25, 2012

Catching Fire


Judul : Catching Fire
Karya : Suzanne Collins
Tebal : 424 hlm
Penerbit Indonesia : PT. Gramedia Pustaka Utama


Catching fire merupakan buku kedua dari trilogi Hunger Games. Setelah kemenangan kontroversial Katniss dan Peeta di Hunger Games, pemberontakan mulai terjadi di beberapa distrik. Untuk meredakan pemberontakan itu maka Presiden Snow memerintahkan mereka untuk melakukan tur kemenangan. Mereka juga harus meyakinkan semuanya kalau hubungan yang mereka jalin pada saat Hunger Games adalah benar bukan hanya sandiwara belaka untuk menentang Capitol.

Suasana distrik 12 tempat mereka tinggal juga sudah berubah, para penjaga perdamaian yang dulu sangat bersahabat dengan penduduk di distrik itu sudah diganti. Peraturan dijalankan dengan ketat. Gale salah satu korbannya, dicambuk di alun-alun karena tertangkap tangan menjual hewan hasil buruannya dari hutan ke pasar gelap yang ada di distrik 12.

Pagar yang membatasi distrik 12 kembali dialiri listrik yang sempat membuat Katniss terjebak diluar pagar sehabis berburu di hutan. Sebelumnya saat berada di hutan tanpa disangka dia bertemu dengan Twill dan Bonnie yang melarikan diri dari distrik 8. Tujuan mereka adalah distrik 13, menurut desas-desus yang mereka dengar distrik 13 telah menjadi pusat pemberontakan. Hal ini pula yang menimbulkan keinginan Katniss untuk melarikan diri ke Distrik 13.

Tapi keinginan itu tak terpenuhi karena mereka mendapat kejutan yang tak terduga dari Presiden Snow kalau mereka berdua harus sekali lagi bertarung di Hunger Games ke 75. Kali ini bertajuk Quartel Qell. Diadakan setiap 25 tahun sekali. Dan untuk kali ini pesertanya diambil 2 orang dari pemenang-pemenang sebelumnya disetiap distrik.

Di sebuah arena yang berbentuk jam inilah mereka kembali berjuang untuk bertahan hidup. Tapi kali ini berbeda, mereka memiliki banyak sekutu yang siap membantu. Korban yang berjatuhan lebih banyak dikarenakan berbagai perangkap dan kejadian-kejadian yang sengaja di buat disetiap putaran jam dalam arena. Katniss merasa ada sesuatu yang aneh dengan arena itu, hingga akhirnya dia menemukan kebenarannya.

Keasyikan membaca buku ini lebih berkurang jika dibandingkan dengan buku pertamanya. Alur cerita dari awal hingga pertengahan lebih cukup membosankan. Lebih banyak berisi kisah diantara Katniss, Peeta, dan Gale. Suasana pertarungan di arena juga tidak semenarik di pertandingan Hunger Games sebelumnya. Tapi bagi yang telah membaca buku pertama wajib membaca buku ini untuk mengobati rasa penasaran atas kelanjutan cerita Hunger Games.

My Rate :

Friday, February 10, 2012

The Alchemist


Judul : The Alchemist
Karya : Paulo Coelho
Penerbit Indonesia : PT. Gramedia Pustaka Utama

Santiago sudah merasa bahagia dengan kehidupannya sebagai seorang pengembala domba di daratan Spanyol, hingga ketika dia bertemu dengan orang tua yang mengaku sebagai Raja Salem. Menyarankan untuk menjemput takdirnya menemukan harta karun yang terletak di Piramida Mesir. Dan pertualanganpun di mulai.

"Jangan pernah berhenti bermimpi.
Ikutilah pertanda - pertanda.

Kalau kau menginginkan sesuatu, seisi jagat raya akan bekerja sama membantumu memperolehnya."

Dia menyebrang ke Afrika yang kemudian dia tertipu oleh seorang yang baru dikenalnya. Kehilangan uang yang dimiliki dari hasil penjualan domba, yang akhirnya kemudian harus mamaksanya mengumpulkan uang dengan jalan bekerja di sebuah toko kristal. Dia mengumpulkan bekal untuk kembali mengejar mimpinya mencari harta karun di piramida, Mesir.

Setahun kemudian setelah mempunyai cukup banyak bekal dia melanjutkan perjalannannya dengan rombongan karavan. Membawanya bertemu dengan seorang Inggris yang mencari sang Alkemis, Fatima seorang gadis yang menawan hatinya di padang pasir, dan sang Alkemis.

Meskipun banyak petuah dan kata-kata indah di novel ini tapi (menurutku) ceritanya sungguh sangat membosankan dan terlalu berkhayal. Konfliknya kurang hidup dan ada cerita-cerita yang tak masuk akal, seperti pada saat Santiago berubah menjadi angin dan sang Alkemis yang bisa mengubah logam menjadi emas. Gaya bahasa yang digunakan membuatku merasa tidak nyaman saat membacanya. Dan terakhir ending ceritanya mengecewakan. Hoammmhhh... Gak lagi deh baca karya-karya mas Paulo karena ku lihat buku-buku karyanya banyak terpampang di Gramedia.


My Rate :